INOVASI SINTAKS
MODEL PEMBELAJARAN PJBL DAN DAMPAKNYA TERHADAP KEMAMPUAN BERPIKIR KREATIF
MODEL PEMBELAJARAN PROJECT BASED LEARNING (PJBL)
Model pembelajaran berbasis
proyek (project based learning) adalah sebuah model pembelajaran yang
menggunakan proyek (kegiatan) sebagai inti pembelajaran. Dalam kegiatan ini,
siswa melakukan eksplorasi, penilaian, interpretasi, dan sintesis informasi
untuk memperoleh berbagai hasil belajar (pengetahuan, keterampilan, dan sikap).
Saat ini pembelajaran di sekolah-sekolah kita masih lebih terfokus pada hasil
belajar berupa pengetahuan (knowledge) semata. Itupun sangat dangkal, hanya
sampai pada tingkatan ingatan (C1) dan pemahaman (C2) dan belum banyak
menyentuh aspek aplikasi (C3), analisis (C4), sintesis (C5), dan evaluasi
(C6). Ini berarti pada umumnya, pembelajaran di sekolah belum mengajak
siswa untuk menerapkan, mengolah setiap unsur-unsur konsep yang dipelajariuntuk
membuat (sintesis) generaliasi, dan belum mengajak siswa mengevaluasi (berpikir
kritis) terhadap konsep-konsep dan prinsip-prinsip yang telah dipelajarinya.
Sementara itu, aspek keterampilan (psikomotor) dan sikap (attitude) juga banyak
terabaikan.
Di dalam pelaksanaannya, model pembelajaran berbasis proyek memiliki
langkah-langkah (sintaks) yang menjadi ciri khasnya dan membedakannya dari
model pembelajaran lain seperti model pembelajaran penemuan (discovery learning
model) dan model pembelajaran berdasarkan masalah (problem based learning
model). Adapun langkah-langkah itu adalah:
(1) menentukan pertanyaan dasar;
(2) membuat desain proyek;
(3) menyusun penjadwalan;
(4) memonitor kemajuan proyek;
(5) penilaian hasil;
(6) evaluasi pengalaman.
Sintak Pembelajaran
Berbasis Proyek di uraikan berikut ini:
1. Penentuan
Pertanyaan Mendasar (Start With the Essential Question)
Pembelajaran dimulai
dengan pertanyaan esensial, yaitu pertanyaan yang dapat memberi penugasan
peserta didik dalam melakukan suatu aktivitas. Mengambil topik yang sesuai
dengan realitas dunia nyata dan dimulai dengan sebuah investigasi mendalamdan
topik yang diangkat relevan untuk para peserta didik.
2. Mendesain Perencanaan
Proyek (Design a Plan for the Project)
Perencanaan dilakukan
secara kolaboratif antara pengajar dan peserta didik. Peserta didik diharapkan
akan merasa “memiliki” atas proyek tersebut. Perencanaan berisi tentang aturan
main, pemilihan aktivitas yang dapat mendukung penyelesaian proyek.
3. Menyusun Jadwal (Create a Schedule)
Pengajar dan peserta
didik secara kolaboratif menyusun jadwal aktivitas dalam menyelesaikan proyek.
Aktivitas pada tahap ini antara lain: (1) membuat timeline untuk menyelesaikan
proyek, (2) membuat deadline penyelesaian proyek, (3) membawa peserta didik
agar merencanakan cara yang baru, (4) membimbing peserta didik ketika mereka
membuat cara yang tidak berhubungan dengan proyek, dan (5) meminta peserta
didik untuk membuat penjelasan (alasan) tentang pemilihan suatu cara.
4. Memonitor peserta
didik dan kemajuan proyek (Monitor the Students and the
Progress of the Project)
Pengajar
bertanggungjawab untuk melakukan monitor terhadap aktivitas peserta didik
selama menyelesaikan proyek. Proses monitoring dapat dilakukan dengan
menggunakan rubrik untuk merekam keseluruhan aktivitas penting.
5. Menguji Hasil (Assess the Outcome)
Penilaian dilakukan
untuk membantu pengajar dalam mengukur ketercapaian standar, memberi umpan
balik tentang tingkat pemahaman yang sudah dicapai peserta didik, membantu
pengajar dalam menyusun strategi pembelajaran berikutnya.
6. Mengevaluasi
Pengalaman (Evaluate the Experience)
Pada akhir proses
pembelajaran, pengajar dan peserta didik melakukan refleksi terhadap aktivitas
dan hasil proyek yang sudah dijalankan. Proses refleksi dilakukan baik secara
individu maupun kelompok. Pada tahap ini peserta didik diminta untuk
mengungkapkan perasaan dan pengalamanya selama menyelesaikan proyek. Pengajar
dan peserta didik mengembangkan diskusi dalam rangka memperbaiki kinerja selama
proses pembelajaran, sehingga pada akhirnya ditemukan suatu temuan baru (new inquiry) untuk menjawab permasalahan yang diajukan
pada tahap pertama pembelajaran.
Model pembelajaran PJBL selalu dimulai dengan menemukan apa sebenarnya
pertanyaan mendasar, yang nantinya akan menjadi dasar untuk memberikan tugas
proyek bagi siswa (melakukan aktivitas). Tentu saja topik yang dipakai harus
pula berhubungan dengan dunia nyata. Selanjutnya dengan dibantu guru,
kelompok-kelompok siswa akan merancang aktivitas yang akan dilakukan pada
proyek mereka masing-masing. Semakin besar keterlibatan dan ide-ide siswa
(kelompok siswa) yang digunakan dalam proyek itu, akan semakin besar pula rasa
memiliki mereka terhadap proyek tersebut. Selanjutnya, guru dan siswa
menentukan batasan waktu yang diberikan dalam penyelesaian tugas (aktivitas)
proyek mereka.
Dalam berjalannya waktu, siswa melaksanakan seluruh aktivitas mulai dari
persiapan pelaksanaan proyek mereka hingga melaporkannya sementara guru
memonitor dan memantau perkembangan proyek kelompok-kelompok siswa dan
memberikan pembimbingan yang dibutuhkan. Pada tahap berikutnya, setelah siswa
melaporkan hasil proyek yang mereka lakukan, guru menilai pencapaian yang siswa
peroleh baik dari segi pengetahuan (knownledge) terkait konsep yang relevan
dengan topik), hingga keterampilan dan sikap yang mengiringinya. Terakhir, guru
kemudian memberikan kesempatan kepada siswa untuk merefleksi semua kegiatan
(aktivitas) dalam pembelajaran berbasis proyek yang telah mereka lakukan agar
di lain kesempatan pembelajaran dan aktivitas penyelesaian proyek menjadi lebih
baik lagi.
Banyak sekali manfaat yang dapat diraih melalui penerapan model pembelajaran
berbasis proyek (Project Based Learning) ini, misalnya:
(1) siswa menjadi pebelajar aktif;
(2) pembelajaran menjadi lebih interaktif
atau multiarah;
(3) pembelajaran menjadi student centred);
(4) guru berperan sebagai fasilitator;
(5) mengembangkan kemampuan berpikir
tingkat tinggi siswa;
(6) memberikan kesempatan siswa
memanajemen sendiri kegiatan atau aktivitas penyelesaian tugas sehingga melatih
mereka menjadi mandiri;
(7) dapat memberikan pemahaman konsep atau
pengetahuan secara lebih mendalam kepada siswa; dsb.
KEMAMPUAN BERPIKIR KREATIF
Johnson (2014:214-215) menyatakan berpikir kreatif adalah sebuah kebiasaan dari
pikiran yang dilatih dengan memperhatikan intuisi, menghidupkan imajinasi,
mengungkapkan kemungkinan-kemungkinan baru, membuka sudut pandang yang
menakjubkan, dan membangkitkan ide-ide yang tidak terduga. Berpikir kreatif
yang membutuhkan aktivitas mental seperti:
1. Mengajukan pertanyaan.
2. Mempertimbangkan informasi baru dan ide yang tidak lazim
dengan pikiran terbuka.
3. Membangun keterkaitan, khususnya diantara hal-hal yang
berbeda.
4. Menghubung-hubungkan berbagai hal dengan bebas.
5. Menerapkan imajinasi pada setiap situasi untuk menghasilkan
hal baru dan berbeda.
6. Mendengarkan intuisi.
Idris (2015:50) menjelaskan, biasanya anak yang kreatif selalu ingin tahu,
memiliki minat yang luas dan menyukai kegemaran dengan aktivitas yang kreatif.
Mereka biasanya cukup mandiri dan memiliki rasa percaya diri, lebih berani
mengambil resiko (tetapi dengan perhitungan) dari pada anak-anak pada
umumnya.
Indikator berpikir kreatif E. Paul Torrance dalam Davis (2012:359)
mendeskripsikan kemampuan kreatif :
- Fluency adalah kemampuan untuk menghasilkan banyak
ide verbal non verbal dalam merespon masalah yang tidak memiliki satu
jawaban benar.
- Flexibility adalah kemampuan untuk mengambil pendekatan
berbeda untuk suatu masalah, memikirkan ide dalam kategori berbeda, atau
melihat masalah dalam perspektif berbeda.
- Originality itu berarti keunikan, ketidaksamaan dalam
pemikiran dan tindakan atau cara berpikir yang unik.
- Elaborasi adalah kemampuan untuk mengembangkan,
memperhalus, menyempurnakan, dan bahkan menerapkan ide.
- Transformasi berarti kreativitas, merubah satu
ide atau objek lain dengan melakukan modifikasi, mengkombinasi, atau
dengan melihat makna baru, dampak, penerapan, atau adaptasi ke pengguna
baru.
Munandar (2012) berpendapat untuk mengetahui tingkat kekreatifan seseorang,
perlu adanya penilaian terhadap kemampuan berpikir kreatif. Berikut indikator
penilaian berpikir kreatif beserta perilakunya.
1. Berpikir lancar (Fluency)
- Menghasilkan banyak gagasan/jawaban yang relevan
- Arus pemikiran lancar
2. Berpikir luwes (flexibility)
- Menghasilkan gagasan-gagasan yang beragam
- Mampu mengubah cara atau pendekatan
- Arah pemikiran yang berbeda
3. Berpikir orisinil (Originality)
- Meberikan jawaban yang tidak lazim
- Memberkan jawaban yang lain dari pada yang lain
- Memberikan jawaban yang jarang diberikan
kebanyakan orang
4. Berpikir terperinci (elaboration)
- Mengembangkan, menambah, memperkaya suatu gagasan
- Memperinci detail-detail
- Memperluas suatu gagasan
SINTAKSIS HASIL MODIFIKASI MODEL PEMBELAJARAN PJBL
Berikut sintaksis model
pembelajaran PJBL hasil modifikasi pada materi faktor-faktor yang mempengaruhi
laju reaksi besert alasan dan dampaknya bagi kemampuan berpikir kreatif siswa.
|
No |
Sintaks model PJBL Konvensional |
Sintaks PJBL Hasil modifikasi (Inovasi) |
Indikator berpikir kreatif |
Alasan serta Dampak Inovasi Sintaks terhadap
Kemampuan berpikir kreatif |
|
1 |
Penentuan pertanyaan mendasar (Questioning) |
Questioning |
Alasan
memodifikasi langkah ini karena pada sintaks konvensional kurang tergambar
dengan rinci apa yang akan dilakukan siswa. Dengan
dilakukannya modifikasi diharapkan berdampak terhadap kemampuan berpikir
kreatif siswa terutama pada indikator berpikir lancar, detail dan luwes |
|
|
Guru
bersama dengan siswa menentukan tema/topik proyek |
Guru
mengkondisikan siswa untuk siap mengikuti kegiatan belajar dan melakukan
review pembelajaran sub-bab sebelumnya |
- |
||
|
Guru
memberikan motivasi melalui contoh implikasi materi dalam
kehidupan sehari-hari dan menyampaikan tujuan pembelajaran mengenai
materi faktor yang mempengaruhi laju reaksi |
- |
|||
|
Guru
menginstruksikan siswa untuk mempelajari materi secara singkat untuk kemudian
mengumpulkan pertanyaan-pertanyaan dari materi faktor yang mempengaruhi laju
reaksi |
Berpikir
lancar Berpikir
detail |
|||
|
Guru
menginstruksikan siswa mencatat pertanyaan penting(masalah) yang dapat
dijadikan proyek pembuktian implikasi materi faktor yang mempengaruhi laju
reaksi terhadap lingkungan maupun kehidupan sehari-hari |
Berpikir
detail (elaborasi) Berpikir
luwes |
|||
|
2 |
Mendesain perencanaan proyek |
Planning |
Alasan
melakukan modifikasi pada langkah ini karena pada sintaks konvensional guru
tekesan seperti hanyab erperan sebagai fasilitator saja namun tidak
terperinci fasilitator seperti apa dan bagaimana. Pada langkah hasil
modifikasi siswa bebas dalam merencanakan proyek apa yang dilakukan namun
harus tetap dalam koridor relevan dengan materi dengan diawasi secara optimal
oleh guru Dengan
dilakukannya modifikasi ini diharapkan dapat meningkat kemampuan berpikir
lancar, detail dan orisinil siswa |
|
|
Guru
memfasilitasi siswa untuk merancang langkah kegiatan penyelesaian proyek |
Pertanyaan
penting yang telah dirumuskan sebelumnya, selanjutnya dikembangkan menjadi
sebuah topik/tema dalam penyusunan proyek yang akan dikerjakan |
Berpikir
luwes, lancar, elaborasi, orisinil |
||
|
Guru
menginstruksikan siswa untuk melakukan studi literatur melalui googling,
membaca referensi dari buku dan video untuk memperkaya teori yang
mendukung proyek yang akan dilakukan |
Berpikir
lancar, luwes dan detail |
|||
|
Guru
membagi siswa menjadi beberapa kelompok yang sebaran kemampuan berpikirnya
heterogen untuk nantinya menyusun proyek dengan konsep berbeda tiap
kelompoknya |
- |
|||
|
Guru
memberikan LKPD yang kegiatan siswanya masih kosong dan harus diisi
sendiri oleh siswa sesuai dengan proyek apa yang akan mereka lakukan yang
disusun secara terperinci |
Berpikir
detail |
|||
|
Guru
mengawasi dan mengarahkan setiap kegiatan siswa agar proyek yang dirancang
tidak melenceng dari tujuan pembelajaran awal |
- |
|||
|
3 |
Menyusun jadwal |
Researching |
Alasan
modifikasi yakni pada sintaks konvensional peran guru dan siswa terlalu umum
dan tidak terperinci Dengan
dlikakukannya modifikasi diharapkan kesematan yang diberikan guru untuk siswa
berliterasi dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya sehingga dapat meningkatkan
kemampuan berpikir detail, lancar, luwes dan orisinil sehingga hasil karya
proyek memiliki ciri khas tersendiri (unik) |
|
|
Guru
memberikan pendampingan kepada siswa melakukan penjadwalan semua
kegiatan yang telah dirancang |
Siswa
diberikan kesempatan untuk tetap melakukan studi literatur guna memperdalam
dan memperkuat konsep proyek yang akan mereka kerjakan |
Berpikir
lancar, luwes, detail dan orisinil |
||
|
Guru
memberikan kesempatan seluas-luasnya untuk siswa bertanya mengenai proyeknya |
Berpikir
luwes dan detail |
|||
|
Guru
mendampingi siswa dan melakukan penjadwalan proyek yang akan dilakukan |
- |
|||
|
Guru
mengawasi dan mengarahkan setiap kegiatan siswa agar proyek yang dirancang
tidak melenceng dari tujuan pembelajaran awal |
- |
|||
|
4 |
Memonitor siswa dan kemajuan proyek |
Creating |
Alasan
modifikasi yakni pada sintaks konvensional siswa tidak diberikan kesempatan
untuk berkreasi dengan apa yang sudah direncanakannyab erdasarkan
pengembangan tema/topik yang dirumuskan sendiri oleh siswa Dengan
dilakukannya modifikasi ini diharapkan siswa dapat mengasah kemampuan
berpikir orisinil, detail dan lancar yang dimilikinya |
|
|
Guru
memfasilitasi dan memonitor siswa dalam melaksanankan rancangan proyek
yang telah dibuat |
Guru
memberikan kesempatan siswa dalam menciptakan sebuah proyek yang menghasilkan
karya yang telah disusun secara matang, didukung literatur yanng relevan dan
terperinci |
Berpikir
orisinil, detail dan lancar |
||
|
Guru
memfasilitasi siswa dalam menciptakan karya (melakukan proyek) yang telah
dirancang siswa sendiri |
- |
|||
|
Guru
mengawasi dan mengarahkan setiap kegiatan siswa agar proyek yang dirancang
tidak melenceng dari tujuan pembelajaran awal |
- |
|||
|
5 |
Menguji hasil |
Improving |
Alasan
dilakukannya modifikasi dikarenakan pada tahap ini siswa tidak hanya menguji
hasil tetapi melakukan improvisasi/modifikasi terhadap rancangan proyek yang
sudah mulai digarap sehingga jika terdapat irrelevansi akan diperbaiki. Dengan
dilakukannya modifikasi diharapkan proyek yang dirancang sendiri oleh siswa
berjalan dan hasil yang dicapai sesuai target dan relevan dengan materi serta
dapat meningkatkan kemampuan siwa dalam berpikir detail, orisinil, lancar
serta luwes. |
|
|
Guru
memfasilitasi siswa untuk mempresentasikan dan mempublikasikan karya |
Guru
mengawasi dan mengarahkan setiap kegiatan siswa agar proyek yang dirancang
tidak melenceng dari tujuan pembelajaran awal |
- |
||
|
Guru
memberikan siswa untuk berimprovisasi/melakukan modifikasi dalam langkah
proyek jika langkah tersebut kurang cocok/relevan dengan konsep dan hasil
karya proyek yang diinginkan |
Berpikir
orisinil, detail, lancar dan luwes |
|||
|
Setiap
detail langkah dan alasan pemilihan langkah literatur serta tujuan yang ingin
dicapai selama proyek dilakukan dicatat dengan rinci pada LKPD |
Berpikir
detail (elaborasi) |
|||
|
Guru
menginstruksikan untuk menguji kembali relevansi proyek dengan materi faktor
yanng mempengaruhi laju reaksi melalui studi literatur |
Berpikir
lancar dan detail |
|||
|
6 |
Mengevaluasi pengalaman |
Presenting |
Alasan
modifikasi yakni pada tahap presenting banyak kegiatan yang dapat dilakukan
siswa dalam memunculkan dan meningkatkan kemampuan berpikir kreatifnya
seperti mengomentari hail proyek kelompok lain, menyampaikan persepsinya
dalam berdiskusi dan menyimpulkan hasil proyek dan kaitannya dengan implikasi
materi dalam kehidupan sehari-hari. Dengan
dilakukkannya modifikasi diharapkan siswa dapat meningkatkan kemampuan
berpikir orisinil, bernalar secara lancar dan luwes serta menyampaikan
pandangan/persepsinya dengan detail, relevan dan orisinil. |
|
|
Guru dan
siswa pada akhir pembelajaran melakukan refleksi terhadap aktivitas dan hasil
tugas proyek |
Guru
memberikan siswa kesempatan untuk mempresentasikan dan mempublikasikan proyek
yang telah dirancang dan menghasilkan karya, mendeskripsikan proyeknya
tersebut (kelebihan proyek dibandingkan proyek lain) serta menyimpulkan
sendiri keterkaitan antara proyek dengan materi faktor yang mempengaruhi laju
reaksi serta implikasinya terhadap lingkungan/kehidupan sehari-hari |
Berpikir
orisinil dan lancar |
||
|
Guru
memberikan siswa kesempatan untuk berdiskusi dan saling mengomentari hasil
karya proyek yang telah dipresentasikan |
Berpikir
luwes |
|||
|
Guru dan siswa melakukan refleksi dari hasil kerja siswa, menyampaikan
kesimpulan pembelajaran dan proyek per individu |
Berpikir
orisinil |
|||
|
Guru
meluruskan miskonsepsi yang muncul selama pembelajaran |
- |
|||
|
Guru
memberikan tugas/soal latihan berupa soal essay terstruktur mengenai proses
belajar dan hasil proyek yang dilakukan (memberikan masalah dan siswa yang memberikan
alternatif pemecahan) yang membutuhkan nalar dan ide kreatif siswa dalam
menjawab |
Berpikir
lancar, luwes,orisinil dan detail |
REFERENSI:
http://www.flyparsons.org/BIE/teachlearningguide.pdf
http://novehasanah.blogspot.com/2016/01/langkah-model-pembelajaran-berbasis-proyek.html
http://penelitiantindakankelas.blogspot.com/2014/05/model-pembelajaran-project-based.html
http://riniwfajr.blogspot.com/2018/12/materi-13-inovasi-sintaks-model.html (main source)
PERTANYAAN:
1. Menurut pendapat anda
sudah cocokkah jika model pembelajaran PJBL disandingkan dengan kemampuan
berpikir kreatif? Berikan alasan.
2. Menurut anda apakah bisa
inovasi/hasil modifikasi yang saya buat pada model PJBL ini dapat diterapkan di
kelas pada materi laju reaksi?jelaskan faktor apa saja yang membuatnya bisa
dditerapkan dan tidak bia diterapkan!
3. Berikan kritik dan saran
anda terhadap hasil modifikasi model PJBL yang saya buat.




Komentar
Posting Komentar