Langsung ke konten utama

5E Model with 6C

 





Pendidikan menjadi salah satu aspek terpenting dalam segi kehidupan manusia serta mampu menjadi pendorong kemajuan suatu bangsa. Dalam dunia pendidikan, kompetensi sangat erat kaitannya akan potensi dan kemampuan yang dimiliki oleh seorang pendidik. Kompetensi pendidik yang tinggi dan profesional berpengaruh baik terhadap kemampuan pendidik dalam menyampaikan materi dengan mudah dan dapat diterima oleh siswanya. Hal tersebut selaras dengan yang dikatakan oleh Rusdin, (2017) bahwa kompetensi erat kaitannya dengan sebuah profesi keguruan, yang mana kompetensi profesional seorang guru dapat menjalankan tugas serta tanggung jawab yang diembannya dengan baik (Riskha Nur Fitriyah, 2019: 360).

 

 

       
        Menurut Santoso (2005), learning cycle pertama kali diperkenalkan oleh Robert Karplus dalam Science Curriculum Improvement Study (SCIS). Learning Cycle (siklus belajar) merupakan suatu pengorganisasian yang memberikan kemudahan untuk penguasaan konsep-konsep baru dan untuk menata ulang pengetahuan siswa.

    

        Model Learning Cycle 5E mampu memberikan kesempatan bagi siswa untuk membangun sendiri pemahaman atau pengetahuan terhadap konsep-konsep melalui kegiatan pembelajaran yang interaktif. Sebagaimana yang dikemukankan oleh Acisli dkk. (2011) bahwa “The 5E Learning Cycle involves learning something new, or attempting to understand something familiar in greater depth”. Model Learning Cycle 5E terdiri dari 5 tahap yaitu, engagement, exploration, Explanation, Elaboration, dan Evaluation (Akar, 2005;Bybee dkk.,2006;Acisli dkk., 2011). Selain itu, model Learning Cycle 5E sangat sesuai digunakan dengan pendekatan saintifik yang digunakan dalam kurikulum nasional saat ini.
 

Setiap pendidik ataupun calon pendidik harus menguasai kompetensi 6C. Karena dalam UU Republik Indonesia No. 14 tahun 2005 tentang guru dan dosen menyatakan bahwa kompetensi merupakan seperangkat pengetahuan, keterampilan, dan perilaku yang harus dimiliki, dihayati, dan dikuasai oleh guru dan dosen dalam melaksanakan tugas keprofesionalan. Jadi untuk mengembangkan keprofesionalan pendidik harus berusaha mencapai kompetensi 6C, agar menjadi guru yang berkompeten. Sistem pendidikan di Indonesia diatur dengan kurikulum yang berkembang sesuai dengan perkembangan zaman, artinya kurikulum ini bersifat fleksibel.

Kurikulum yang diterapkan di Indonesia saat ini ialah kurikulum 2013 atau disingkat menjadi kurtilas. Dalam kurtilas, seorang guru harus mempunyai kecakapan 4C yaitu Communication, Collaboration, Critical Thinking and Problem Solving, dan Creativity and Innovation. Berikut adalah penjelasannya:

a.      Communication (Komunikasi)

Merupakan suatu usaha yang dilakukan oleh pendidik untuk mentransfer ilmu, pengetahuan serta pengalamannya kepada peserta didik baik dilakukan secara secara lisan maupun tulisan karena pada hakikatnya manusia ialah makhluk sosial, oleh karena itu kemampuan dalam berkomunikasi sangat diperlukan. Akan tetapi pada kenyataannya setiap orang memiliki kemampuan berkomunikasi yang berbeda-beda, dan bagi orang yang kurang cakap dalam berkomunikasi harus terus dilatih. Komunikasi yang baik juga memberikan dampak yang positif misalnya tidak terjadi salah faham atau salah persepsi. Dalam penyampaiannya tentu diperlukan beberapa teknik, yaitu: 1) Tidak berbelit-belit. 2) Jelas. 3) Lugas. 4) Memahami dan memperhatikan orang yang diajak bicara. 5) Menggunakan bahasa sesuai dengan kadar atau kemampuan yang diajak bicara. 6) Disertai dengan contoh nyata. 7) Sampaikan informasi dengan lembut supaya mudah diterima. 8) Memberikan umpan balik. Komunikasi merupakan unsur penting dalam kegiatan pembelajaran. Karena dengan berkomunikasi akan mengetahui keadaan antara satu dengan yang lainnya. Di era 4.0 ini, berkomunikasi tidak ada sekat karena dunia sudah mengglobal.

b.      Collaboration (Kolaborasi)

Merupakan kerjasama. Dalam pelaksanaan proses pendidikan tentu dibutuhkan kerjasama yang baik antara pendidik dan peserta didik guna untuk tercapainya tujuan pendidikan. Selain itu, collaboration juga dapat bermakna tanggungjawab dan fleksibel artinya mampu menempatkan diri serta tidak mencampuradukkan antara masalah pribadi dan sekolah. Maka dari itu apabila hubungan kerjasama antara pendidik dan peserta didik terjalin dengan baik maka tujuan pendidikan akan terwujud. 94 | At-Ta’dib: Jurnal Ilmiah Prodi Pendidikan Agama Islam Vol. 12 No. 01, Juni 2020: 89-96

c.       Critical Thinking and Problem Solving (Berfikir kritis dan mampu memecahkan masalah)

Ketrampilan berfikir kritis berarti ia mampu menelaah dari analisis, melakukan evaluasi, serta mampu mengambil keputusan. Ketrampilan berfikir kritis tersebut sesuai dengan yang dikatakan oleh King, et al., yang mengungkapkan bahwa keterampilan berpikir kritis yaitu keterampilan dalam melakukan berbagai penilaian, analisis, evaluasi, rekonstruksi, serta pengambilan keputusan yang mengarah pada tindakan yang bersifat rasional dan logis (Elva Susanti dan Anggia Arista, 2019: 74). Kemampuan berfikir kritis untuk memahami, mengamati serta memberi solusi terhadap suatu permasalahan. Hal ini perlu diperhatikan bagi pendidik maupun calon pendidik agar senantiasa berfikir kritis, agar tidak kebingungan ketika menghadapi suatu masalah.

d.      Creativity and Innovation (Kreativitas dan Inovasi)

Dalam proses pembelajaran, seorang pendidik harus kreatif dan inovatif dalam menjalankan KBM atau kegiatan belajar mengajar. Pendidik yang kreatif dan inovatif tentu akan disenangi oleh peserta didik karena dalam pembelajaran disampaikan dengan berbagai cara dan selalu ada saja hal-hal yang baru sehingga membuat peserta didik tidak bosan serta memotivasi siswa untuk selalu belajar. Sehingga dengan adanya kompetensi kreatif, maka pembelajaran tidak akan jenuh, jika diterapkan akan mearik perhatian siswa agar selalu mengikuti pembelajaran dengan baik.

Selain point-point kecakapan diatas, Menteri Pendidikan Indonesia yaitu Bapak Nadiem Makarim menambahkan dua point kecakapan yang harus dikuasai oleh guru yaitu Computational Logic dan Compassion. Dua point tersebut harus dikuasai oleh guru agar dapat mengajar dengan maksimal.

e.       Computational logic

Guru dituntut untuk memiliki kemampuan serta strategi dalam memecahkan masalah. Kemampuan tersebut dapat diimplementasikan pada saat proses belajar mengajar, misalnya ketika ada peserta didik yang hiperaktif saat pembelajaran berlangsung maka guru harus mempunyai strategi bagaimana caranya agar anak tersebut mau untuk mendengarkan pelajaran.

f.       Compassion

Mencintai dan menjalankan profesinya dengan senang hati. Apabila sebuah pekerjaan dijalankan dengan senang hati maka akan memberikan dampak positif kepada orang lain, misalnya bertanggungjawab, memberikan teladan yang baik kepada peserta didik, memberikan motivasi untuk selalu belajar dan karena hal tersebut dapat memberikan dorongan semangat dalam belajar. Serta jika mengajar dengan rasa senang hati maka akan timbul rasa ikhlas. Sehingga jika pendidik mencintai profesinya, maka ia akan merasa tidak terbebani dengan kesulitan-kesulitan dalam mengajar.


 

At-Ta’dib: Jurnal Ilmiah Prodi Pendidikan Agama Islam Vol. 12 No. 01, Juni 2020: 89-96

Ali Fikri, Persepsi Calon Guru PAI terhadap Kompetensi 6C dalam Menghadapi Era 4.0

M.D Roblyer. 2015.  Introduction to Systematic Instructional Design for Traditional, Online, and Blended Environments. United States of America: Pearson Education

 and for everything :).
TPoK :D

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pengertian Model Pembelajaran Model pembelajaran adalah kerangka kerja yang memberikan gambaran sistematis untuk melaksanakan pembelajaran agar membantu belajar siswa dalam tujuan tertentu yang ingin dicapai. Artinya, model pembelajaran merupakan gambaran umum namun tetap mengerucut pada tujuan khusus. Hal tersebut membuat model pembelajaran berbeda dengan metode pembelajaran yang sudah menerapkan langkah atau pendekatan pembelajaran yang justru lebih luas lagi cakupannya. Definisi di atas senada dengan pendapat Suprihatiningrum (2013, hlm. 145) yang menyatakan bahwa model pembelajaran adalah kerangka konseptual yang melukiskan prosedur pembelajaran dengan sistematis untuk mengelola pengalaman belajar siswa agar tujuan belajar tertentu yang diinginkan bisa tercapai. Untuk memperkuat kesahihan pengertian model pembelajaran berikut ini adalah beberapa pengertian model pembelajaran menurut para ahli. Pengertian Model Pembelajaran menurut Para Ahli Trianto Menurut Trianto (2010, hlm. 51) M...

implementation 5E with 6C on learning

thanks for everything :). TPoK :D   Implementation 5E with 6C on learning NO MODEL KONVENSIONAL INOVASI SINTAKS MODEL DAMPAK DARI INOVASI 1 Engagement (Persiapan). Engagement (Persiapan). Pada fase ini guru mengasses pengetahuan awal ( priorknowledge ) siswa. Guru memusatkan perhatian siswa. Guru membangkitkan minat, motivasi, dan keingintahuan siswa mengenai materi yang akan dipelajari. Pada fase ini guru mengasses pengetahuan awal ( priorknowledge)  siswa. Communication dan Collaboration and Compassion Membantu mereka untuk tertarik dengan konsep-konsep baru melalui penggunaan kegiatan singkat untuk memicu rasa ingin tahu. Membantu mereka untuk tertarik dengan konsep-konsep baru melalui penggunaan kegiatan singkat untuk memicu rasa ingin tahu. Exploration awal Kemudian  mengorganisasikan pemikiran si...